Selasa, 17 Mei 2011

QUALITY CONTROL DI INDUSTRI GARMEN & TEKSTIL


              Definisi Quality Control (pengendalian mutu) adalah semua usaha untuk menjamin (assurance) agar hasil dari pelaksanaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan memuaskan konsumen (pelanggan).
Tujuan quality control adalah agar tidak terjadi barang yang tidak sesuai dengan standar mutu yang diinginkan (second quality) terus-menerus dan bisa mengendalikan, menyeleksi, menilai kualitas, sehingga konsumen merasa puas dan perusahaan tidak rugi.
Tujuan Pengusaha menjalankan QC adalah untuk menperoleh keuntungan dengan cara yang fleksibel dan untuk menjamin agar pelanggan merasa puas, investasi bisa kembali, serta perusahaan mendapat keuntungan untuk jangka panjang.

Bagian pemasaran dan bagian produksi tidak perlu melaksanakan, tetapi perlu kelancaran dengan memanfaatkan data, penelitian dan testing dengan analisa statistik dari bagian QC yang disampaikan kepada pihak produksi untuk mengetahui bagaimana hasil kerjanya sebagai langkah untuk perbaikan.
Saat pelaksanaan pengujian QC dan testing bila ditemukan beberapa masalah khusus, perlu dibuat suatu study agar dapat digunakan untuk mengatasi masalah di bagian produksi tersebut.
Di samping tersebut di atas tugas bagian QC yaitu jika terjadi komplain, mengadakan cek ulang dan menyatakan kebenaran untuk bisa diterima secara terpisah lalu dilaporkan kepada departemen terkait untuk perbaikan proses selanjutnya.
Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut
1. Pengendalian biaya (Cost Control)
Tujuannya adalah agar produk yang dihasilkan memberikan harga yang bersaing (Competitive price)
2. Pengendalian Produksi (Production Control)
Tujuanya adalah agar proses produksi (proses pelaksanaan ban berjalan) bisa lancar, cepat dan jumlahnya sesuai dengan rencana pencapaian target.
3. Pengendalian Standar Spesifikasi produk
Meliputi aspek kesesuaian, keindahan, kenyamanan dipakai dsb, yaitu aspek-aspek fisik dari produk.
4. Pengendalian waktu penyerahan produk (delivery control)
Penyerahan barang terkait dengan pengaturan untuk menghasilkan jumlah produk yang tepat waktu pengiriman, sehingga dapat tepat waktu diterima oleh pembeli

.

JENIS JENIS QUALITY CONTROL DI GARMEN
 Piece Goods quality control/pemeriksaan bahan baku.
• Adanya inspector pada saat staffing ( bongkar muat )
• Melakukan pengecekan sejumlah 10% kain dari total kain yang diterima
• Melakukan dan mengevaluasi adanya fabric defect/ cacat kain
• Melakukan perbaikan apabila diperlukan
 Cutting Departemen Quality Control
• Melakukan persiapan terhadap kebutuhan manpower
• Mempunyai sistim pengecekan pada setiap step proses cutting ( Misalnya pada proses : marker, spreading, cutting dan cuttingpieces/ komponen )
• Mempunyai sistim perbaikan apabila diperlukan.
 In process Quality Control
• Melakukan persiapan terhadap manpower, alat yang diperlukan mempunyai tempat dengan penerangan yang baik sebagai tempat pengecekan.
• Mempunyai sistim sampling plan
• Mempunyai prosedur dalam menangani masalah rejection dalam bundeling sistim
• Mempunyai sistim audit minimum per hari untuk setiap operator. Untuk operator baru pengecekan minimum 3 x per hari
• Mempunyai sistim audit untuk setiap tahapan proses
• Mempunyai sistim inspect untuk setiap bundle, dengan cara diambil 7 pcs per bundle dan akan dinyatakan reject apabila ditemukan 1 pcs.
• Mempunyai sistim kontinyu audit untuk operator yang mempunyai masalah.
• Mempunyai sistim menyimpanan record untuk operator bermasalah.
 Final Statistical Audit
• Menentukan pada step mana kita melakukan sistim audit , dengan menentukan dari status produksi.
• Menentukan berapa colour/warna atau berapa model/style yang akan di audit.
• Mempersiapkan manpower, alat dan tempat
• Melakukan pemilihan pada garmen sesuai dengan statistical
sampling plan
• Melakukan pemeriksaan terhadap jumlah contract dan melakukan periksaan terhadap akurasi labelling dan model/style.
• Melakukan pemeriksaan secara visual untuk setiap jenis quality defect
• Melakukan pemeriksaan terhadap jumlah garmen yang bermasalah
SISTEM PEMERIKSAAN DALAM PROSES PRODUKSI
Pemeriksaan Sample (Sample Inspection)
Sample adalah contoh bahan atau material, contoh model atau style, atau contoh garmen.Sample ini dapat berupa sample dari pihak pembeli atau pun yang dibuat oleh pihak pabrik.Sample yang dimaksud di sini adalah sample yang dibuat oleh pihak pabrik berdasarkan contoh dari pihak pembeli.
Tujuan pemeriksaan adalah agar seluruh sample yang dibuat oleh pihak pabrik (bagian sample) bebas dari cacat, kerusakan, penyimpangan/ ketidaksesuain baik model, mutu jahitan/finishing, ukuran, warna, dan lain sebagainya.
Mutu produk adalah kesesuaian ciri dan karakter produk yang dibuat, dengan ciri dan karakter produk yang diminta, dan kemampuan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam kondisi tertentu.
Setelah menerima sample, selanjutnya sample di-copy komplit size, cek style dan ukuran, kemudian dilanjutkan dengan membuat top sample pre production sebanyak 4 pcs atau lebih per style dan size.
Urutan/Prosedur Pemeriksaan Sampel (QC Sampel):
 Petugas bagian quality control (QC) akan menerima sample dan lembar pemeriksaan sample dari petugas bagian sample.
 Lembar rencana kerja (work-sheet) dan contoh produk garmen yang akan diproduksi dibuat oleh petugas bagian sample & Merchandiser diserahkan ke bagian QC.
 Petugas QC akan memeriksa dan memberi komentar/koreksi terhadap sample pada lembar pemeriksaan (work-sheet) dan menyerahkan kembali kepada merchandiser.
 Merchandiser mempelajari catatan QC dan memutuskan untuk dikirim ke bagian produksi atau ditolak dan dikembalikan kepada bagian pembuatan sample untuk dibuat ulang contoh atau sample.
 Jika sample ditolak oleh merchandiser maka sample akan dikembalikan kepada bagian pembuatan sample untuk diperbaiki atau dibuat ulang sesuai dengan mutu sample yang dikehendaki oleh pembeli.
 Jika sample diterima atau disetujui oleh merchandiser maka sample tersebut akan dikirim oleh merchandiser ke pihak pembeli guna mendapatkan persetujuan, sesuai permintaan atau tidak (approval sample)
 Petugas QC akan menerima salinan atau copy laporan pemeriksaan sample dari merchandiser.
 Sampel yang telah disetujui pihak pembeli (approval sample) dikembalikan ke bagian produksi untuk diproduksi secara massal.
PEMERIKSAAN PADA BAGIAN POTONG/CUTTING
Cutting adalah proses pemotongan kain sesuai pola marker yang ada dan sudah dicek kebenarannya oleh bagian marker dan QC cutting.
Secara singkat yang dilakukan oleh bagian QC cutting adalah mengecek gelaran kain, kain tidak gelombang, tidak melipat, kain bawah sampai atas harus sama, dan penyusutan kain. Kemudian mengecek hasil potongan, potongan harus sesuai dengan sample dan toleransi ukuran.
Urutan/prosedur pemeriksaan pada cutting (QC Cutting):
 Periksa lembar kain bagian atas sampai pada lembar kain bagian bawah dengan posisi kertas marker.
 Periksa dan cocokkan komponen pola dengan komponen pola yang terdapat pada kertas marker apakah komponen pola sudah lengkap atau belum. Petugas QC harus mencatat semua temuan pada lembar laporan pemeriksaan.
 Periksa apakah terdapat kesalahan potong pada setiap garis komponen pola ataukah tidak.
 Cek interlining dengan pola (bila komponen garmen menggunakan interlining dan bordir), Kesalahan potong pada bagian yang seharusnya dipotong ulang pada kain cadangan, dilakukan pencatatan dan pemotongan ulang
Lebih detailnya adalah sebagai berikut :
 Melakukan pemeriksaan terhadap kontruksi kain, warna kain, design kain, bagian luar dalam kain, dan bagian centre line kain. Juga melakukan pemeriksaan terhadap kualitas kain.
 Melakukan pemeriksaan pada marker, apakah rasio size/ukuran sudah memenuhi seluruh size/ukuran yang dipesan
 Melakukan pemeriksaan terhadap hasil spreading/ampar apakah kain yang diampar sudah benar benar rata tidak bergelombang dan lurus.
 Melakukan pemeriksaan terhadap metode cutting
 Pemeriksaan terhadap hasil potong, apakah seluruh hasil potong sudah benar benar sesuai dengan original pattern/pola yang diberikan oleh buyer/pemesan.
 Pemeriksaan pada hasil potong, apakah stripe atau kotak dari potongan komponen benar benar matching dan balance.
PEMERIKSAAN PADA BAGIAN FUSING
 Melakukan pemeriksaan terhadap hasil fusing sebelum dan sesudah pencucian. Apakah mengalami perubahan warna dan ukuran.
 Melakukan pemeriksaan terhadap kualitas fusing yang dihasilkan, terdapat delamination dan strike trough atau tidak. Apakah bond strength sudah memenuhi standar atau tidak.
 Melakukan pemeriksaan khusus untuk kain stripe/kotak hasil fuse benar benar lurus dan balance.
 Melakukan pemeriksaan apakah interlining yang digunakan sudah sesuai dengan yang ditentukan oleh buyer atau tidak.
PEMERIKSAAN PADA BAGIAN JAHIT
Urutan/prosedur pemeriksaan pada proses Sewing:
 Bekerja sesuai dengan pedoman produksi atau work sheet.
 Mengikuti proses sesuai dengan layout sampai baju jadi
 Periksa hasil cutting per komponen sesuai dengan sample dan toleransi
 Memeriksa jumlah stikan dalam 1 inch (stitch/inch)
 Periksa hasil jahitan dan ukuran tiap tahapan proses, jahitan harus baik, rapi, tidak loncat.
 Periksa hasil jadi sesuai dengan work sheet
 Periksa hasil jadi setelah dilakukan trimming
 Semua data dicatat pada blangko yang sudah disediakan
Lebih detailnya adalah sebagai berikut :
 Melakukan pemeriksaan terhadap model/style yang akan digunakan.
 Melakukan pemeriksaan terhadap material penunjang yang akan digunakan, nisalnya : Label, Button, benang
 Melakukan pemeriksaan terhadap hasil komponen jadi, spi, ukuran, model/style, handling/penanganan
 Melakukan pengukuran terhadap garmen jadi
 Melakukan tes cuci pada garmen jadi untuk mengetahui apakah ada perubahan warna, dan ukuran setelah pencucian.
PEMERIKSAAN PADA BAGIAN GOSOK-LIPAT – PENGEPAKAN
 Melakukan pemeriksaan secara tekhnis apakah temperature/suhu yang digunakan sudah sesuai dengan jenis kain yang akan digosok atau tidak.
 Melakukan pemeriksaan dari hasil gosok, apakah ada perubahan warna, bentuk dan ukuran setelah penggosokan.
 Melakukan pemeriksaan dari hasil gosokan apakah sudah halus sesuai dengan yang diinginkan atau tidak.
 Melakukan pemeriksaan apakah folding method/cara lipat sudah seusesuai dengan permintaan buyer atau tidak.
 Melakukan pemeriksaan terhadap material penunjang( card board, paper collar stripe, plastic collar support, tissue paper, hang tag, price ticket ) apakah sudah sesuai yang dengan permintaan dari buyer atau tidak.
 Melakukan pemeriksaan terhadap kualitas, ukuran dari export carton.
 Melakukan pemeriksaan terhadap total jumlah per carton, dan methode packing.
FINAL AUDIT PROCEDURE/ PROSEDUR FINAL AUDIT
Final audit akan dilakukan pada posisi garmen dengan status produksi tertentu.
 Melakukan pemeriksaan kesesuain pada jumlah pemesanan, warna dan model.
 Melakukan pemilihan/pengambilan garmen secara random sesuai dengan statistical sample plan.
 Melakukan pemeriksaan secara visual dari hasil operasi sewing/ jahit apakah kualitas jahit sudah sesuai atau tidak dengan standar
 Melakukan pemeriksaan terhadap ukuran, apakah sudah sesuai dengan pemesanan atau tidak. Minimum pengukuran 5 pieces untuk setiap warna dan ukuran.
 Melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap: model, kain, warna, jahitan, material penunjang, konstruksi material, priceticket,folding method/cara lipat, carton marking. Dan carton labeling.
KLASIFIKASI DEFECT
Defect akan diklasifikasikan menjadi dua yaitu, defect major dan defect minor.
Major defect adalah sebuah kondisi garmen yang diindikasikan akan menjadi second quality atau tidak memenuhi standar karena beberapa alasan berikut :
• Defect tersebut akan mempengaruhi integrity/keutuhan dari product
• Defect tersebut akan mempengruhi terhadap daya jual dari product
• Defect tersebut akan mempengaruhu kepercayaan dan kepuasan konsumen terhadap product
• Defect tersebut menjadikan ketidak sesuaian pada style
Minor defect adalah sebuah kondisi dimana defect tersebut tidak akan menimbulkan complain dari konsumen.
DEFINISI DEFECT PADA BAGIAN SEWING/JAHIT
1. Crooked label/ label tidak di tengah +/- 1/16” dari tengah masih diperbolehkan
2. Label seam ends on yoke/ jahitan label tembus satu jarum pada bahu. Diperbolehkan tidak melebihi 1/8”
3. Label stitching over run/ jahitan label keluar. Diperbolehkan tidak melebihi satu jarum
4. Poor banding/ lapisan kaki kerah melintir. Tidak diperbolehkan
5. Nose on band extension/pemasangan kaki kerah nonjol. Diperbolehkan tidak melebihi 1/16”.
6. Uneven collar point length/Lebar dari pucuk kerah tidak sama kiri dan kanan. Tidak ada toleransi , ukuran harus benar benar akurat.
7. Untidy joint stitching at collar/jahitan sambungan pada kerah. Tidak diperbolehkan ada jahitan sambung pada bagian kerah.
8. Mismatched collar/kerah tidak matching. Diharuskan matching pada bagian ini.
9. Skip stitch collar/stik kerah loncat. Tidak diperbolehkan
10. Open seam collar closing/pasang tutup kerah jebol. Tidak ada toleransi.
11. Beading collar point/pucuk kerah tidak lancip. Tidak ada toleransi.
12. Fractured Collar point/pucuk kerah jebol. Tidak ada toleransi.
13. One front longer than other/bagian depan kiri kanan tidak sama. Tidak diperbolehkan melebihi ¼”
14. Skip stitch top centre/jahitan loncat pada bagian tengah. Tidak ada toleransi.
15. Missing or faulty button/kurang atau rusak kancing. Tidak ada toleransi.
16. Open seam joining/jebol pada penggabungan. Tidak ada toleransi
17. Faulty pocket blocking/Block saku kurang baik. Tidak ada toleransi.
18. Incorrect pocket location/penempatan saku yang tidak sesuai. Diperbolehkan tidak melebihi ¼”
19. Hi Low Pocket/Pocket kiri dan kanan tidak sama posisinya. Diperbolehkan tidak melebihi 1/4”
20. Sleeve not even at armhole/ tangan tidak sama pada bagian ketiak. Diperbolehkan tidak melebihi ¼”
21. One sleeve longer than other/panjang tangan kiri dan kanan tidak sama. Diperbolehkan tidak melebihi ¼”
22. Puckering/Kerut. Tidak diperbolehkan.
23. Sleeve placket faulty blocking/Blocking tangan tidak bagus. Harus diperbaiki.
24. Fullness in Cuff/Gelembung pada manset. Harus diperbaiki.
25. Nose on Cuff/pemasangan manset menonjol ke luar.Harus diperbaiki.
26. Beading Cuff attached/Pasang manset menonjol ke atas. Harus diperbaiki.
27. Needle pulls, needle chew/Terdapat bekas karena jarum tumpul. Tidak diperbolehkan.
28. Brooken stitch/Jahitan putus. Tidak diperbolehkan.
29. Half sewn button/jahitan kancing hanya separuh.
DEFINISI DEFFECT PADA BAGIAN FOLDING DAN PACKING
 Crushed or no collar support/Rusak atau sobek kertas penahan kerah. Harus diperbaiki.
 Tie space too big/overlap/Jarak pemasangan dasi terlalu lebar atau bertumpang tindih.
 Crooked Collar/Kerah tidak pas pada bagian tengah lipatan.
 Mismatched front stripe/plaid/Bagian kiri dan kanan tidak matching untuk stripe atau kotak.
 Mismatched pocket/Pemasangan saku tidak matching.
 Mismatched collar/Kerah tidak matching
 Collar not rolled properly/Kerah tidak bulat secara sempurna.
 Torn/misprinted poly bag/ Plastik robek dan ada kesalahan print.
 Dry wrinkles/ Gosokan tidak rapi.
 Poor Pinning/Pemasangan jarum pentul tidak baik.
 Crooked front folding/Bagian lipatan kiri kanan tidak seimbang.
 Flaps not covering to pocket/Tutup saku tidak menutupi secara sempurna.
 Puckering collar closing/kerut pada bagian pemasangan kerah.
 Fullnes in band/gelembung pada bagian dalam kaki kerah
 Hi Low Button Down/Kancing kerah kiri kanan tinggi rendah.
 Misaligned neck button to front button/Kancing leher tidak lurus terhadap kancing depan.
 Fullness around collar/Gelembung sekitar kerah
 Fullness between 1st and 2nd front button/Gelembung antara kancing pertama dan kedua pada bagian depan.
 Wrong size in box/Salah memasukan ukuran pada box
 Wrong assortment/ Salah assortment
 Wrong style in box/ Salah style yang masuk pada box
 Wrong poly bag/ Salah plastic
 Wrong Carton Marking/ Salah print pada karton box
Sumber bacaan
as Asmawati, Pelatihan QA Garmen di PTBB UNY
GRIPAC, Modul QC.
www.batikyogya.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar